JAKARTA – Suaraexpose com, Malam yang kelam bagi karier politik Gatut Sunu Wibowo, Wajah yang dulu memancarkan wibawa sebagai orang nomor satu di Tulungagung, kini pucat pasi dan penuh penyesalan.
Di hadapan kamera dan publik, Bupati yang baru saja terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK ini hanya mampu melontarkan dua kata yang terdengar begitu hampa.
“Mohon maaf…”Ucapan singkat itu terlontar pelan saat dirinya melangkah keluar dari Gedung Merah Putih KPK, Minggu (12/4/2026) dini hari, tepatnya pukul 00.18 WIB.
Tidak ada pembelaan diri, tidak ada jawaban panjang lebar. Hanya senyum kecut yang terukir di wajahnya, seolah menyadari bahwa segalanya sudah berakhir.
Momen pilu itu tak bisa dielakkan. Bersama ajudannya, Dwi Yoga Ambal, Gatut digiring menuju mobil tahanan. Kini, seragam dinas dan jabatan telah digantikan oleh rompi tahanan oranye khas KPK.
Simbol nyata bahwa statusnya telah berubah drastis: dari pemimpin yang dilindungi, kini menjadi tersangka yang harus diadili.
Langkahnya terlihat berat. Mata publik kini menatapnya bukan lagi sebagai pemimpin yang diharapkan, melainkan sebagai oknum yang diduga telah mengkhianati amanah rakyat demi kantong sendiri.
Di balik ucapan maaf itu, tersimpan serangkaian dugaan kejahatan yang mencengangkan. KPK mengungkap bahwa Gatut diduga memeras kawan-kawannya sendiri di lingkungan pemerintahan.
Target keuntungannya fantastis, mencapai Rp 5 Miliar, dan hingga tertangkap ia diduga sudah berhasil mengantongi sekitar Rp 2,7 Miliar. Bahkan, barang bukti yang disita pun mencengangkan uang tunai ratusan juta hingga sepatu mewah Louis Vuitton yang diduga dibeli dari hasil rampasan hak rakyat.
Sekolah yang tak jadi bagus, jalan yang tak jadi mulus, dan fasilitas yang tak jadi nyata, semuanya seolah dikorbankan demi gaya hidup mewah dan ambisi pribadi yang tak terkontrol.
Masyarakat Tulungagung kini hanya bisa geleng kepala. Sosok yang seharusnya menjadi ayah bagi daerahnya, justru bertindak bak perampok yang menyamar menjadi pemimpin. Julukan dan kepercayaan rakyat runtuh seketika.
“Maaf” mungkin mudah diucapkan oleh lidah, namun kerugian yang diderita negara dan rakyat takkan bisa kembali hanya dengan dua kata itu.
Keadilan kini berada di tangan hukum, dan sang mantan Bupati harus siap menanggung akibat dari segala perbuatannya.
Apakah ini akhir dari segalanya, Atau masih ada nama-nama besar lain yang bakal terseret dalam pusaran kasus ini?.
Nantikan kelanjutannya, saat kebusukan yang selama ini ditutup rapat, kini mulai terkuak satu per satu!(NT).

















