Kota Metro – Suaraexpose.com, Dinginnya angin malam Metro seolah tidak mampu memadamkan api kemarahan publik yang meledak.
Gelombang kritik membanjiri setiap sudut media sosial dan sudut kota, menunjuk tajam ke gedung DPRD Kota Metro yang megah tempat yang seharusnya menjadi garda terdepan pengawasan, kini malah menjadi simbol pemborosan yang memprihatinkan.
Anggaran pengawasan penyelenggaraan pemerintahan tahun 2025 sebesar Rp 4,67 miliar telah membuat seluruh Provinsi Lampung terkejut.
Angka fantastis itu bukan hanya angka belaka ini menjadikan Kota Metro, dengan luas hanya 73,21 km² dan penduduk 174 ribu jiwa, daerah dengan biaya pengawasan tertinggi di Lampung.
Di balik lembaran dokumen resmi, dana jumbo itu dialokasikan ke tiga bidang Rp 1,5 miliar untuk pemerintahan dan hukum, Rp 1,7 miliar untuk kesejahteraan rakyat, dan Rp 1,46 miliar untuk perekonomian. Tapi pertanyaan yang menggigit: apa yang sesungguhnya diawasi hingga menelan biaya sebesar itu?
Perbandingannya membuat telinga membisu. DPRD Kabupaten Lampung Tengah wilayahnya hampir 62 kali lebih luas, penduduknya delapan kali lebih banyak hanya menganggarkan Rp 939 juta untuk kegiatan yang sama. Seolah-olah setiap inci tanah di Metro bernilai emas yang harus diawasi dengan biaya mahal yang tidak masuk akal.
“Ini bukan sekadar kesalahan perhitungan ini cermin dari bagaimana uang rakyat dihabiskan sembarangan!” teriak seorang pemerhati kebijakan publik yang enggan menyebut namanya.
“Ketika daerah kecil bisa lebih boros dari yang jauh lebih besar, ada celah yang parah di dalamnya apakah ada yang tersembunyi di balik angka-angka itu?”
Di media sosial, warga berteriak minta keadilan. “DPRD seharusnya memantau, bukan memakan uang kita!” tulis salah satu akun.
“Beritahu kita, uang itu digunakan untuk apa apakah untuk rapat-rapat mewah atau benar-benar untuk kesejahteraan kita?”
Kini, gedung DPRD Metro seperti terkurung oleh tembok kritikan. Setiap langkah anggota dewan dipantau dengan mata curiga.
Apakah mereka akan keluar dengan kepala tegak dan menjelaskan secara terbuka alasan di balik anggaran fantastis ini? Ataukah mereka akan tenggelam dalam badai kemarahan publik yang semakin membesar, meninggalkan tanda tanya yang lebih dalam tentang kepercayaan rakyat?
Waktu akan menjawab namun untuk saat ini, api kemarahan tidak akan padam begitu saja.(***)

















