Lampung Barat – Suaraexpose.com, Apa yang dikatakan sebagai impian mulia Gubernur Rahmat Mirzani Djausal, orang nomor satu di Provinsi Lampung, untuk melihat dunia pendidikan di daerahnya berkembang pesat dan menjadi lebih baik, kini seolah hanya tinggal kenangan dan harapan yang patah.
Di balik janji kemajuan menuju Indonesia Emas 2045, terdapat kenyataan pahit yang menyayat hati dan mengguncang dunia pendidikan di Kabupaten Lampung Barat.
Pada Selasa (24/02/2026), suara keprihatinan itu bergema keras melalui lisan Bimo Nugroho, seorang pemerhati pendidikan yang tak tinggal diam.
Berdasarkan hasil investigasi mendalamnya serta laporan dari sejumlah narasumber yang memilih untuk merahasiakan identitasnya demi keamanan, terkuaklah fakta yang mengerikan tujuh Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) di Lampung Barat diduga secara massal melanggar petunjuk teknis (juknis) penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
“Dana BOS itu milik peserta didik, penggunaannya harus transparan!” seru Bimo dengan nada yang penuh emosi.
Matanya tertuju pada satu mata anggaran yang disebut “Administrasi Kegiatan Sekolah” pada tahun anggaran 2025.
Angka-angka yang tertera dalam laporan realisasi dinilai tidak hanya besar, tapi “fantastik” dan terkesan diatur semau-maunya, jauh melampaui batas kewajaran dan aturan yang seharusnya berlaku.
Coba simak angka-angka yang membuat bulu kuduk merinding ini:
– SMAN 1 Way Tenong menerima aliran dana BOS sebesar Rp 1.489.600.000 untuk 893 peserta didiknya. Namun, dari jumlah itu, tak kurang dari Rp 478.059.900 diserap untuk administrasi kegiatan sekolah saja. “Angka ini tidak masuk akal,” tegas Bimo.
– Tak kalah mencengangkan, SMAN 1 Sekincau dengan dana BOS Rp 897.600.000 (598 siswa) mencatat realisasi administrasi mencapai Rp 321.226.600.
– SMAN 1 Sumberjaya dengan dana Rp 1.048.000.000 (654 siswa) menghabiskan Rp 164.352.050 untuk administrasi.
– SMAN 1 Bandar Suoh (Rp 633.600.000, 364 siswa) mencatat administrasi Rp 192.210.100.
– SMAN 1 Belalau (Rp 862.400.000, 571 siswa) dengan administrasi Rp 151.247.400.
– Serta SMAN 1 Kebun Tebu (Rp 1.150.400.000, 733 siswa) yang menyerap Rp 240.072.700 untuk pos yang sama.
Total dana BOS yang diterima keenam sekolah ini saja menyentuh angka lebih dari Rp 6 Miliar, dengan alokasi administrasi yang mencapai ratusan juta rupiah per sekolah.
Namun, keanehan tidak berhenti di situ. Dari daftar sekolah tersebut, terdapat satu institusi pendidikan yang benar-benar menghilangkan jejak SMAN 1 Sukau. Sekolah ini disebut-sebut tidak memiliki laporan penggunaan dana BOS sama sekali.
Sebuah misteri yang menyisakan tanda tanya besar ke mana perginya dana yang seharusnya digunakan untuk kemaslahatan siswa.
Bimo tidak menutup-nutupi kekecewaannya yang mendalam.
Baginya, sekolah yang seharusnya menjadi tempat paling suci dan nyaman bagi generasi bangsa untuk menimba ilmu, kini berubah fungsi menjadi ladang penghasil kekayaan bagi oknum tertentu.
“Moral para kepala sekolahnya sudah bobrok!” cetus Bimo dengan nada tinggi, seolah meluapkan amarah seluruh masyarakat yang merasa dikhianati.
Kasus ini bukan sekadar soal angka yang salah hitung, melainkan indikasi kuat adanya praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) yang merajalela di lingkungan pendidikan.
Bimo, bersama seluruh orang tua murid dan masyarakat Lampung Barat, kini menatap penuh harap kepada pihak berwenang Inspektorat dan Kejaksaan agar segera mengambil langkah hukum yang tegas dan serius.
Mereka menuntut agar para kepala sekolah yang terlibat dipanggil, diperiksa, dan dimintai pertanggungjawaban atas kepercayaan yang telah dicemarkan ini.
Bagaimana kelanjutan kisah pilu ini Mata anggaran spesifik apa saja yang terindikasi kuat sebagai sarana KKN, Jawaban dan kebenaran yang sesungguhnya masih tersimpan rapat.
Thomas Amirico selaku kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung tidak memberikan tanggapan apa pun terkait masalah pendidikan di Tanah Lampung “Cetus Bimo dengan ekspresi dahi mengkerut seperti sedang kecewa”.
Nantikan pengungkapan selengkapnya dalam edisi mendatang suaraexpose.com, saat tabir gelap dunia pendidikan Lampung Barat akan semakin terbuka lebar.(Ys)

















