Lampung Utara, Suaraexspos.com – Publik kembali disuguhi tontonan menarik. Bukan sinetron, bukan juga pertandingan sepak bola, melainkan laporan penggunaan Dana BOS di SMKN 2 Kotabumi yang sukses membuat masyarakat menghitung pakai kalkulator sambil mengernyitkan dahi.
Dana BOS tahun 2025 yang nilainya mencapai Rp1,4 miliar lebih itu kini jadi bahan obrolan hangat. Bahkan kalau angka-angka ini dijadikan soal matematika, murid mungkin menyerah sebelum bel masuk berbunyi.
Pemerhati pendidikan, Budi Nugroho, mengaku sempat mengucek mata tiga kali saat melihat rincian anggaran. Bukan karena mengantuk, tapi karena takut salah baca.
“Administrasi sekolah Rp267 juta, pengembangan perpustakaan Rp149 juta, dan guru honorer Rp389 juta. Saya sampai cek ulang, ini laporan keuangan atau daftar belanja akhir tahun?” ujarnya.
Menurutnya, jika mengacu pada aturan yang berlaku, beberapa angka tersebut terlihat cukup atletis karena berhasil melompat jauh dari batas yang biasa dipakai dalam petunjuk teknis.
Warga pun mulai melontarkan berbagai komentar kreatif. Ada yang bilang angka-angka itu lebih misterius daripada password WiFi sekolah. Ada juga yang bertanya,
“Perpustakaannya dikembangkan sampai jadi cabang NASA atau bagaimana?”
Yang paling ramai justru soal pembayaran guru honorer. Masyarakat heran karena nominalnya begitu besar sampai-sampai ada yang bercanda, “Kalau segitu buat guru honorer, gurunya mengajar di kelas atau sekalian jadi Avengers?”
Tak hanya itu, masyarakat juga meminta Aparat Penegak Hukum (APH) untuk segera turun tangan.
“APH jangan cuma jadi penonton. Bangun dulu dari tidur siangnya, minum kopi, lalu cek angka-angka ini. Kalau memang sesuai aturan ya jelaskan ke publik. Kalau tidak sesuai, ya jangan sampai pendidikan dijadikan ATM berjalan,” kata salah satu warga.
Budi Nugroho juga mendesak Dinas Pendidikan Provinsi Lampung agar segera melakukan evaluasi menyeluruh.
“Sekolah itu tempat mencetak generasi masa depan. Jangan sampai murid belajar matematika dari laporan keuangan yang malah bikin mereka bingung membedakan mana penjumlahan dan mana keajaiban,” sindirnya.
Sementara itu, hingga berita ini ditulis, pihak sekolah masih diharapkan memberikan penjelasan resmi agar publik tidak terus-terusan bermain tebak-tebakan seperti peserta kuis berhadiah.
Karena bagaimanapun, transparansi itu penting. Sebab kalau angka sudah bikin masyarakat tertawa sambil curiga, berarti ada yang perlu dijelaskan, bukan disembunyikan.
Saat wartawan media ini mengkompirmasi melalui Aplikasi Whassap sang kepala sekolah bukannya memberikan tanggapan justru bersikekeh ngajak ketemu “Kita ketemu dahulu lah baru saya jawab kompirmasinya, “Ucap sang kepala sekolah”.
Bersambung… menunggu episode berikutnya, apakah ini sekadar salah paham, salah hitung, atau justru plot twist yang lebih mengejutkan daripada ending sinetron jam prime time.(Red)

















